Cerita Hujan Di Waktu itu


Kemungkinan aku menikmati banyak banjir adalah sepersekian,

sama besarnya dengan kemungkinan aku melihat kemarau di tengah telaga.

Aku melihat kemungkinan cahaya tergopoh dari celah kaca,

adalah sama besarnya dengan ketika aku melihat angin yang mengabaikan-ku begitu saja.

Ah! hujan, masihlah kau ini siksa aku sesuka hatimu saja

tak puaskah,

tak bosankah?

meski-pun aku tak nampak menyukaimu,

tapi ikhlas kuciumi-mu, kujamah-mu

seperti terkoyaklah aku,

dan pastilah aku ini hanya sekedar jalanan beraspal bagimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal siapa Agnes Baltsa

Perbedaan antara emas dan perunggu

Aku Tidak Lagi Mampu 'Mengenali'...