AKAR POHON BAKAU

AKAR POHON BAKAU

(Juara-3 Rektor Cup Universitas Muhammadiyah Malang 2008)


Pernahkah terbayang dikepalamu, aku yang masih tetap membeku dalam waktu yang sama seperti 3tahun 11bulan yang lalu, meratap dengan mata penuh dengan anyelir. Aku yang terlalu congkak mana mungkin menyadari bahwa kau-pun yang telah menghembuskan angin seperti malam ini. Dalam kelopak mataku, aku hanya mengingat…

Angin adalah dirimu… kekasihku,

Aku masih bisa merasakan basah dalam tanganmu yang menyentuh ujung rambutku dalam hujan. Yang menjadikanku benci akan tetesannya setelah kau pergi dengan pongahmu. Dan juga suci-mu,

Baiklah, Tuhan-pun iri padaku. Ia mencintaimu hingga mengambilmu dariku.

“andai aku pandai bersikap, mawar hitam tak akan pernah bisa menggantikan indahmu” aku berkata, dan sentuhan halusmu seolah membekukan aku dalam waktu.

“dan bahkan luka-mu tetap begitu indah dalam pandanganku” balasmu.

Perih seolah menyelusup nikmat dalam sesak dadaku. Aku mati perlahan dalam nikmatku!

Waktu berjalan seperti tidak mempedulikan catatan dalam hidup yang mereka bilang telah menuliskannya dengan catatan baik dan buruk. Seperti tetesan air hujan yang jatuh dipundak seseorang, aku tidak pernah merasa beruntung untuk dilahirkan dengan indah seperti kamu, lelaki!!

Kau yang menyukai aku, ketika aku menuliskan namamu di udara hingga membuat sekat antara kau dan aku. Antara angin dan hujanmu.

Antara putihmu dan hitamku...

Lalu kau yang berkata,

“aku ingin tetap mendengarkan nyanyianmu sekalipun aku akan terjatuh dalam jurang pedih”

Itu melukaiku. apakah kau tahu disana, saat ini aku telah melebur dengan nyanyianku tiap detik dalam symphony hitam dalam hatiku. Semuanya hanya agar kau bisa mendengar!

Aku-pun tetap nikmat dengan mereka. Asap tembakau, minuman surga dan hitam-putih kaummu. Tapi, aku tak pernah bisa melupakan kecanduanku terhadapmu. Kamu adalah heroin dalam pembuluh darahku. Yang mungkin saja akan meledakkan-ku suatu saat nanti.

*****

Ini bulan april lelaki, sebulan lagi kau-pun akan bernyanyi. Apakah disana kau juga menyiapkan gaun hitam untukku?

Kita pernah berdebat warna apa yang hidup saat kita mengenakannya. Aku memilih putih untukmu. Karena kamu suci, lalu kau berkeras merah adalah aku. Padahal kau jelas mengerti aku menyukai hitam.

“bagiku, kau adalah merah-ku” aku tidak pernah paham dengan kata-katamu.

aku berusaha memahami hingga sekarang.

“I will remember when it rained”

aku adalah merahmu… apakah aku adalah darahmu? Ataukah aku lukamu? Mungkin bukan keduanya. Karena kau begitu indah, aku tidak pernah bisa menangkap makna-makna indah dalam tiap kata yang kau suguhkan untukku. Memanjakan telingaku dengan bisikan-bisikan magis-mu. Aku terbius.

Dengarlah, ketika aku berkata. Aku telah sadar satu hal, bahwa selama ini tak sedetikpun aku hidup tanpa dirimu. Karena kau telah bersedia terlahir lebih dulu dan menanti sendiri untukku didunia. Aku menghirup udara yang sama denganmu hingga 3tahun 11bulan yang lalu. Masih tetap seperti ini, oksigen yang kuhirup seolah tak sama lagi. Aku basah dengan hujan yang juga telah membasahimu selama ini. Aku mengingat saat tetesan turun. Dan aku tetap terkapar.

*****

15 Mei telah datang kekasihku. dalam bayangmu, malam ini aku mengenakan gaun merah. Ya, aku ingat aku adalah merah-mu. Dengan tipisnya gaunku aku bisa merasakan angin malam yang seakan menusuk tulang. Aku adalah merahmu, Yang mengembang perih berdarah ketika kau pergi.

Aku mengamati sekeliling kamarmu. Yang sebelumnya telah kujenguk orang tua dan adikmu di ruang bawah. Aku tahu mereka-pun nanar jika melihatku. Karena mungkin mereka menangkap abadi sosokmu didalam mataku. Aku menyukai kamar ini sama seperti aku menyukai pelukanmu didalamnya. Bahkan ketika aku menyentuh ranjang putih milikmu, aku bisa merasakan hangatmu dan juga aroma tubuhmu.

Dari jendela kamarmu aku bisa melihat bulan yang bahkan dengan sombongnya tetap bersinar malam ini. Sungguh memalukan. Jalanku gontai seolah tulangku tersedot remuk aura kamarmu. Apakah kau hadir malam ini?

Senyumku mengembang ketika wajahmu terpaut dalam sebuah bingkai foto. Dalam gambar itu kau tersenyum dengan begitu megah. Dan aku yang disebelahmu seolah hanya sebuah tembok batu yang membeku sampai kapanpun. Tapi aku bisa sombong, karena kau menyukai dinginku. Aku menatap keluar jendela sekali lagi. pohon-pohon rumahmu pun angkuh. Apa mereka semua tidak mengerti, aku yang tersobek-sobek sudah tak mungkin direkatkan kembali.

Sepulang dari rumahmu, dalam perjalanan aku melewati pohon kita. Tempat pertama aku bisa melihat indah-mu meski tersekat. Dan itulah awal dimana aku melihat kenyataan bahwa kau adalah satu-satunya lelaki yang akan kucintai hingga akhir.

Dan setelah itu aku tersadar dikamarku. Aku tidak bisa merasakan apapun. Aku mencari banyak kenangan tentangmu dan dengan lepas aku kembali menemui sang pohon. Disana aku menemukan sosokmu yang entah kenapa aku menangkap ekspresi sedih bersamamu. Aku mengulurkan tanganku. Tapi kau pergi begitu saja. Lalu kenapa?

Aku tersandar di pohon tua itu. Tetap melihat bulan, bintang dan pepohon yang masih saja trersenyum mengutukku. Dan saat itu aku barulah tersadar dengan menatap diriku yang satu lagi yang telah tertidur dengan berlumur warna merah dipergelangan tangan. Dan lalu aku-pun menatap nanar pergelanganku. Tergores penuh dengan dosa. Aku tak bisa berteriak. Tidak bisa menangis. Karena mencintaimu adalah dosaku.

*****

Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi denganku. Mataku berat. Yang kuingat aku seperti telah kehilangan kesadaran. aku tertidur disuatu ruangan yang menyakiti mataku karena penuh dengan putih. Dan seorang lelaki yang sebelumnya tertidur tiba-tiba terbangun dengan mengerjap-kerjapkan matanya. Rambutnya nampak halus nyaman. Dia memelukku,

“sungguh bodoh kau mawar hitam! Kakakku tidak akan suka” aku tersenyum dan berucap dalam hati maaf.

“tidak bisakah kau melihatku sekali lagi? Kembalilah padaku” dan dengan suaranya aku tertunduk.

Lelaki kekasihku, apakah kau menginginkan Ia bersamaku? Bersama adikmu yang sebelumnya juga adalah kekasihku yang lain?

Angin kembali menyibak halus rambutku.

Aku tersenyum. Diapun membalas dengan senyumnya yang bagiku tak seindah senyummu.

Aku yang selama ini memanggilmu lelaki, dengan terkutuk telah menerima uluran pria lain yang juga masih darahmu. Tapi kau tahu lelaki indahku, tak akan pernah ada yang bisa menggantikan angin dan hujan yang ada dalam matamu. Aku mencintai putihmu dengan segenap hitamku. Menyingkirkan pekat. dan aku yahkin kau akan kembali menjemputku. Suatu hari... bersama debu.

“I will remember when it rained...” seperti katamu dulu.

========================================================

catatan:

wah, nemuin berkas lama [glad]. jadi inget masa-masa waktu masi semester awal-awal dan baru sampe malang :). bagi yang ga sengaja nemu blog ini dan baca cerpen ini, kasi komentar ya. kalo reaksi bagus dan memenuhi persyaratan, mungkin bisa dimasukin ke kumpulan cerpen : Ilalang-ku (Diujung kemarau) dimasa mendatang :) LOL.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal siapa Agnes Baltsa

Perbedaan antara emas dan perunggu

Aku Tidak Lagi Mampu 'Mengenali'...