Di persimpangan

ketika abu tak bisa terbersih dengan naluri
saat nafsu tak tersuci dengan api
aku menunggu tasbih yang terukir di tiap kotak-kotak dan abjad
dalam tiap bulatan dan buram
dalam, dan lalu jika
bagaimana, dan lalu kenapa
tanyakan pada angin,
yang begitu pongah menyingkir berhembus melewati celah telinga
pada matahari,
yang terlalu tinggi
dan congkak untuk menatap bunga kuning yang selalu menatapnya,
mengikutinya
dan lalu menunduk ketika bulan datang merogoh mengambil hatinya
bukan pada siapapun!
kutunggu kau disuatu persimpangan
antara debu dan angin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal siapa Agnes Baltsa

Perbedaan antara emas dan perunggu

Aku Tidak Lagi Mampu 'Mengenali'...