Senin, 31 Juli 2017

Tujuh Tahun

Tujuh Tahun,
yang nyaris menelan si kepala Dua
yang dipikirnya terlihat seperti hanya numpang lewat
Tujuh yang penuh dengan kekosongan

Tujuh Tahun
dari sebuah kehidupan yang dipikirnya tidak terasa seperti bernapas
dari sebuah keberadaan yang rasa-rasanya terlihat seperti tidak ada

keberadaan? rasa-rasanya?

bahkan keberadaannya sendiri saja tidak benar adanya.
lantas apa yang bisa dirasakan.

dan dia tertawa,

aah!
menertawai dirinya sendiri yang sebenarnya tidak ada?

Senin, 06 Juli 2015

JULI

Juli,
ini adalah seperti kenanga di bulan juli.
meringkuk dalam senyap.
dalam dinginnya malam.
dan dengan sendirinya.

ini adalah juli.
sama seperti ilalang yang masih tinggi
meninggi satu senti, dua senti.
bisa juga jadi ribuan kali tinggi..

ini adalah juli.
adalah kemarau yang tak ada.
adalah air yang memilih untuk menjadi yang lain..
adalah kebekuan yang tidak juga pecah
dan adalah semuanya.

masih,
karena ini masih juli.

Senin, 17 Maret 2014

Aku Tidak Lagi Mampu 'Mengenali'...

Lamanya aku tidak menulis disini sepertinya sudah hampir dua tahun.
dari sebuah kata 'aku' berubah menjadi 'saya', kemudian kembali ke 'aku' dan nanti mungkin akan berubah kepada 'saya' lagi.
kurang dari 2tahun, banyak sekali perubaan yang terjadi. dan itu sangat luar biasa. sekali lagi, LUAR BIASA!
mungkin sama seperti mereka semua yag bernapas, sebuah fase yang dinamakan sebuah perubahan bisa sangat menakjubkan, atau juga menyakitkan...
di masa sekarang, saat ini. detik saat aku menuliskan ini.. adalah sebuah fase yang luar biasa tidak tertahankan. banyak hal-hal yang terjadi. dan di kepalaku seperti ada sebuah 'penyakit' yang mungkin suatu saat nanti akan membunuhku pada akhirnya. aku masih yahkin ini adalah normal, karena si penyakit ini selalu ada dalam setiap pemikira manusia yang hidup. seperti sebuah tumor yang jika dibiarkan akan menyebar dan mempengaruhi seluruh kinerja anggota badan yang lainnya
fakta bahwa semua yang hidup pasti akan mati adalah mutlak, tapi aku tidak akan membiarkan diriku mati dengan cara ini.
berbicara kembali mengenai 'hampir 2tahun yang kulewati' belakangan ini,
saat ini aku berusia 24 tahun lebih 17 hari. dan itu sangat menakutkan ketika kamu menyadari bahwa waktu tidak lebih adalah sebuah kekasih yang begitu jahat. aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang jauh lebih tua daripada diriku. beberapa mungkin melewati semuanya dengan biaksana, dan beberapa lainnya melewatinya dengan biasa saja, dan beberapa lainnya melewatinya dengan membawa bom waktu dalam dirinya. tapi yang aku pikirkan saat ini adalah aku ingin berhenti disini. sebentar saja...
jika saja tombol pause kehidupan benar-benar eksis aku yahkin detik ini juga aku akan menekannya.
sudah kukatakan sebelumnya, perubahanku dalam waktu kurang dari 2 tahun ini sungguh luar biasa.. menakutkan.
beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan beberapa sahabat. mereka bercerita banyak, dan aku memberikan masukan banyak. tapi seperti yang semua orang ketahui, bahwa nasehat apa yang kita berikan kepada orang lain adalah sebuah nasehat yang ingin kita lakukan untuk kita sendiri.
disebuah cafe kecil dengan nuansa bar belanda di kota kecil seperti malang, bersama mereka, ada sebuah perasaan aneh yang menyetrum ketika aku ada disana.
perasaan apa? aku tidak ingin siapapun membayangkannya.


waktu itu juga muncul pembicaraan seperti ini:
========================================
A: "jika aku tetap seperti ini... apakah suatu hari aku juga bisa 'menjadi' sepertimu
                juga?"
AKU: "sepertiku?"
A: "..............."
AKU: "................................. ]............................." 
========================================

melalui sebuah pembicaraaan panjang yang hanya kutulis dan kuceritakan sepenggalnya disini, itu adalah pertama kalinya aku menyadari, 'sepertiku' adalah sebuah kata pengganti untuk 'tidak mampu merasakan'. dalam masa tambahan kurang dari 2tahun aku sudah kehilangan indera perasaku yang lainnya. indera perasa yang tidak bisa dilihat orang lain dengan mata telanjang. indera perasa yang paling penting dan penunjuk bahwa mereka dinyatakan hidup jika memilikinya. dan aku sudah kehilangannya.

Senin, 07 Mei 2012

Batu, Perhatikan, dan Bangunlah!

Meninggi dan Adidaya,
yang rasa-rasanya sudah terlalu lama tersugesti dan membombardir diri dengan sebuah misi,
dengan sebuah visi buta untuk memeluk kalian jauh dari Dia
Batu, perhatikan dengan bijaksana,
kau mungkin tak bisa melihatnya dengan mata
dan maka rasakanlah dengan hatimu yang selama ini telah banyak berbicara.
Kamu, Batu!
kenalilah, musuhmu menjelma dengan nyata
tak bisakah kau rasakan walaupun dalam keadaan menutup mata
jika kau tak mampu batu,
jika logika telah mengalahkanmu,
pastikan dirimu untuk membuang jauh-jauh kekayaan ilmu milikmu
karena itu tak akan banyak menolongmu

Kamis, 12 April 2012

Muda, Berbahaya dan Berbahagia

pernah muda, dan sekarang-pun masih :P
Muda dan berbahaya? Pasti langsung teringat salah satu band Indonesia yang di dalamnya bawa-bawa lirik beginian kan :).


Hanya ingin sekedar menulis saja, Kalau kutanya apa yang kalian ingat semasa masih muda? pasti salah satu jawaban yang langsung loncat adalah kata senang dan kebahagiaan. bagi orang-orang yang sudah merasa umur dan usia adalah sebuah patokan untuk melakukan atau berhenti melakukan sesuatu yang menyenangkan, tentu saja masa muda ala jaman SMP-SMA masih seperti mimpi untuk mereka. ketika sudah menginjak kepala dua tentu semuanya sudah mulai memikirkan ini dan itu. istilah keren-nya sih 'Dewasa', katanya. lalu disibukkan dengan pikiran kedepan dan lupa bagaimana cara menikmati hidup. disini yang aku maksudkan menikmati hidup bukan melulu hedonis. tapi benar-benar 'menikmati hidup'. lakukan apapun yang kau inginkan, dan menikmati apapun yang kau lakukan.
ketika beranjak 'dewasa', beberapa orang sering khawatir ketika akan melangkah ke depan. atau terlalu menyesali apa-apa yang sudah terjadi di belakangnya.

Rabu, 11 April 2012

Cerita Hujan Di Waktu itu


Kemungkinan aku menikmati banyak banjir adalah sepersekian,

sama besarnya dengan kemungkinan aku melihat kemarau di tengah telaga.

Aku melihat kemungkinan cahaya tergopoh dari celah kaca,

adalah sama besarnya dengan ketika aku melihat angin yang mengabaikan-ku begitu saja.

Ah! hujan, masihlah kau ini siksa aku sesuka hatimu saja

tak puaskah,

tak bosankah?

meski-pun aku tak nampak menyukaimu,

tapi ikhlas kuciumi-mu, kujamah-mu

seperti terkoyaklah aku,

dan pastilah aku ini hanya sekedar jalanan beraspal bagimu.

Selasa, 10 April 2012

Student Hijo, Sebuah Karya Klasik Bagi Pecinta Sastra Indonesia

Ketika duduk di bangku SMA tingkat pertama, aku menemukan buku ini dengan tanpa sengaja di toko buku loakan. Dalam kondisi senang juga bercampur sedih. dimaksudkan senang karena bisa dengan beruntung menemukan novel Student Hijo dengan harga sangat murah (bagi aku yang masih minta duit orang tua waktu itu) dan mengenal nama Marco Kartodikromo sejak itu. sedih, karena tersadar betapa tidak dihargainya buku-buku seperti ini hingga nangkring nyasar di sebuah toko loakan kecil yang nyempil sepucuk diujung sebuah pasar kota kecil. ibarat kata, tersia-siakan dan seperti tak berharga.

Buku novel ini yang menurutku untuk 30 tahun kedepan sudah tak mungkin bisa ditemukan selama tidak diterbitkan lagi, adalah sebuah harta penting. harta yang mengenalkanku untuk mencintai sebuah seni yang sama sekali tidak bisa dinominalkan dengan uang. betapa bersyukurnya waktu itu aku bisa menemukannya pikirku. apa jadinya jika sekedar ditemukan orang lalu dijadikan bungkus kacang?.


STUDENT HIJO


Student Hijo terbitan Yayasan Aksara Indonesia

(2000)

Diterbitkan pertama kali di tahun 1918 melalui Harian Sinar Hindia. kemudian muncul kembali dalam bentuk sebuah buku pada tahun 1919.

Karangan satu ini sempat dipinggirkan oleh dominasi dan Hegemoni Balai Pustaka, bahkan hingga saat penerbitan buku cetakan pertamanya.

Student Hijo disebut-sebut sebagai perintis lahirnya sastra perlawanan (Fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang). Berkisah tentang awal mula kelahiran para intelektual pribumi yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan secara berani megkontraskan kehidupan di Nederlan dan Hindia Belanda.

Tujuh Tahun

Tujuh Tahun, yang nyaris menelan si kepala Dua yang dipikirnya terlihat seperti hanya numpang lewat Tujuh yang penuh dengan kekosongan...